19 Ribu Sapi Dipotong per Hari untuk MBG, Kok Menunya Jarang Daging? BGN Beri Penjelasan – Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana angkat bicara terkait kontroversi yang berkembang di masyarakat. Banyak yang mempertanyakan mengapa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap 19.000 ekor sapi per hari, menu dagingnya jarang terlihat.
Sejak diluncurkan pada Februari 2025, MBG menjadi program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto. Program ini menyasar pelajar, ibu hamil, dan lansia. Anggarannya sangat besar, mencapai Rp268 triliun .
Meski memotong 19.000 sapi setiap hari, porsi daging yang sampai ke spaceman piring siswa terbatas. Publik pun bertanya-tanya ke mana perginya semua daging tersebut. Berikut penjelasan resmi dari BGN.
Fakta Angka: Berapa Kebutuhan Daging MBG?
Menurut data Kementerian Pertanian, kebutuhan daging untuk Program MBG pada 2026 diperkirakan mencapai 990.000 ton . Jumlah ini setara dengan kebutuhan harian sekitar 2.712 ton.
Jika seekor sapi memiliki bobot karkas rata-rata 250 kg, maka 2.712 ton setara dengan sekitar 19.000-an ekor sapi potong per hari.
Dari jumlah sebesar itu, mengapa menu daging di sekolah-sekolah terasa “jarang”?
Penjelasan BGN: Kenapa Menu Daging Terasa Jarang?
Badan Gizi Nasional membantah anggapan bahwa program MBG pelit daging. Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan komposisi menu sudah sesuai standar gizi. “Semua SPPG harus mengikuti panduan dan SOP yang ditetapkan BGN,” ujarnya .
Lantas, apa penyebab ketidaksesuaian persepsi ini?
1. Daging Dibagikan ke Banyak Orang (Pembagian Merata)
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan prinsip dasar program ini adalah “sedikit tapi merata”. Anggaran MBG per porsi adalah Rp15.000 per siswa per hari.
Bayangkan, dengan uang segitu, pihak SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) harus menyusun menu lengkap “4 Sehat 5 Sempurna”: nasi, lauk protein (daging/ayam/telur), sayur, buah, dan susu.
“Ketersediaan daging dan ayam masih relatif terbatas, sehingga kami harus menyiasatinya agar semua penerima manfaat kebagian,” ujar Dadan Hindayana, mengakui ada keterbatasan pasokan .
Akibatnya, SPPG sering menyiasati dengan memotong daging sangat kecil slot deposit 10rb atau membuatnya menjadi bakso. Secara visual, tekstur daging menjadi kurang terlihat, sehingga kesannya porsinya sedikit.
2. Ada Faktor Ganggu dari Anggaran (Subsidi Energi)
Pada April 2026, terjadi krisis ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini memaksa pemerintah menarik dana segar hingga Rp204 triliun untuk subsidi energi .
Beban APBN yang mendadak membengkak ini membuat anggaran operasional MBG ikut terkena imbasnya. Tekanan biaya ini mendorong SPPG untuk mencari sumber protein alternatif yang lebih murah daripada daging sapi, seperti ayam, telur, atau ikan lokal.
3. Distribusi Tidak Merata
Meskipun Indonesia memotong 19.000 sapi per hari, data BGN menunjukkan bahwa sebagian besar bahan baku MBG diserap di Pulau Jawa .
Pusat peternakan juga di Jawa. Akibatnya, logistik daging ke luar Jawa, terutama Indonesia Timur, sangat mahal. Untuk daerah seperti NTT, Maluku, atau Papua, Solusi SPPG lebih mengandalkan sumber protein lokal (ikan, telur, atau ayam kampung). Hal ini membuat persepsi “jarang daging” lebih terasa di daerah yang jauh dari sentra peternakan sapi.
Solusi dan Target BGN
Untuk menjawab keluhan ini, BGN dan Kementerian Pertanian berkomitmen untuk mewujudkan swasembada daging sapi dalam dua tahun ke depan. Mereka akan menggenjot peternakan sapi lokal dan memangkas ketergantungan pada impor.
Selain itu, BGN juga terus memperbaiki akurasi data dan pengawasan kualitas makanan di ribuan SPPG (27.000 unit) untuk memastikan meskipun porsi dagingnya mungkin kecil, namun kualitasnya tetap terjaga .
Kesimpulan: